Kamis, 14 Mei 2009

Kauman Harus Dilestarikan

Melestarikan Nilai Sejarah Kota
Kawasan Wisata Kampung Batik Kauman di Kelurahan Kauman, Kecamatan Pasarkliwon, Kota Surakarta mulai direvitalisasi tahun ini. Pemkot telah membuat design engineering detail (DED) untuk rencana tersebut. Bagimana revitalisasi itu, berikut laporannya:KAMPUNG Kauman selama ini hanya dikenal masyarakat sebagai kampung batik saja. Padahal kampung seluas 20,1 hektare itu punya kaitan erat dengan sejarah Keraton Surakarta. Kauman semula adalah tempat atau kawasan bagi para ulama seperti tafsir anom, ketip, modin, suronoto dan kaum. Keberadaan para kaum (ulama dan santri) yang merupakan penduduk mayoritas itulah yang kemudian menjadikan wilayah tersebut dikenal dengan nama kauman.Kampung Kauman mulai tumbuh pada tahun 1757, yakni ketika Paku Buwono (PB) III membangun Masjid Agung di kompleks Keraton Surakarta, di sebelah barat Alun-alun Lor Keraton Surakarta. Untuk penghulu masjid, PB III mengangkat tafsir anom yang dalam melaksanakan tugas dibantu para abdi dalem ulama lainnya, seperti ketib dan merbot. Selanjutnya, para abdi dalem ulama itu berikut para santri tinggal di sekitar masjid. Lalu berkembanglah kampung tersebut menjadi Kauman yang artinya kampung para kaum.Mesjid Agung dan wilayah sekitar semula adalah tanah milik keraton yang disebut pamijen. Sementara Kauman disebut mutihan atau pamethakan, yaitu wilayah yang hanya boleh dihuni kawula dalem beragama Islam. Setelah Undang-undang Pokok Agraria (UUPA) terbit pada 24 September 1960, tanah-tanah swapraja atau bekas swapraja itu dihapus haknya dan beralih kepada negara. ’’Nah, setelah menjadi tanah negara, kemudian banyak permohonan dari warga Kauman untuk memiliki tanah-tanah yang ditempati itu,’’ kata sejarawan dari UNS Surakarta, Sudarmono SU. Kebutuhan KeratonPada awalnya para abdi dalem ulama yang tinggal di seputar masjid hanya abdi dalem saja dengan mengandalkan gaji dari pihak keraton. Sementara beberapa istri abdi dalem ada yang punya sambilan membatik di rumah. Hasil kerajinan batik itu juga untuk memenuhi kebutuhan keraton. Namun seiring dengan berjalannya waktu, kerajinan batik tulis rumahan itu berkembang sebagai mata pencaharian utama yang mampu menaikkan taraf hidup mereka. Bahkan banyak yang berkembang menjadi industri.’’Dengan kenaikan taraf ekonomi itu pada awal 1800 hingga pertengahan 1900 warga Kauman mampu membangun rumah sekaligus pabrik yang megah dengan tembok tinggi menjulang,’’ paparnya.Keberhasilan usaha tersebut selanjutnya menarik minat para pendatang dari luar Kota Solo untuk tinggal di wilayah Kauman. Para pendatang itu juga menjadi kawula dalem dan bekerja memenuhi segala kebutuhan keraton. Mereka kemudian juga hidup berkelompok. Seperti para penjahit yang tinggal di Kampung Gerjen, pembuat makanan atau kue di Kampung Baladan, serta pembuat bordir di Kampung Blodiran. Dari situ kemudian muncul terjadinya perkawinan antarsaudara. (Langgeng Widodo-50)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar