Rabu, 13 Mei 2009

Sememen


NAMA Kauman, bisa jadi ada di semua daerah di tanah Jawa ini atau bahkan di Indonesia. Namun sejarah tentang nama-nama itu jelas akan berbeda satu sama lain. Begitu juga nama Kauman di Solo, yang persis berada di dekat Masjid Agung Solo. Nama Kauman tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan Keraton Kasunanan Solo, sekaligus pendirian Masjid Agung sekitar tahun 1757 Masehi pada masa Sinuhun Paku Buwana III. Pada masa itu, Kauman memang merupakan sebuah daerah khusus yang disebut bumi mutihan atau pametakan, yakni wilayah yang hanya dihuni kawula dalem khusus yang beragama Islam. Sebagai pemimpinnya kala itu Sinuhun PB III menunjuk Kanjeng Kiai Pengulu (KKP) Mohammad Thohar Hadiningrat.
Sejarah mencatat, KKP Mohammad Thohar Hadiningrat dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Ketib atau Khotib, yang bertugas memberikan ceramah atau khotbah Jumat dan iman salat lima waktu. Kemudian Modin dibantu Qoyim, bertugas memukul bedug sebagai tanda waktu salat wajib, tukang mengumandangkan azan dan sebagai juru nikah serta hal-hal yang berkaitan dengan kematian. Yang terakhir Merbot, bertugas sebagai tukang bersih-bersih, mengelola kebersihan masjid, penyedia air, serta perkakas salat masjid.
Sebagai kampung bentukan raja yang mempunyai simbol sebagai Sayidin Panatagama, Kauman memang dikenal sebagai kampung santri hingga sekarang. Bahkan hal itu dikuatkan dengan adanya naskah nomor 86 B UU Tahun 1777 M, bagi para buruh dan para orang yang tinggal di sana atas izin Sinuhun PB IV menegaskan, bahwa di kampung itu dilarang keras untuk berbuat maksiat serta membunyikan gamelan pada saat hajatan. ”Jika ada yang melanggar, maka akan dihukum membersihkan serambi dan halaman Masjid Agung selama 40 hari," kata pemerhati budaya KRAT Mufti Rahardjo.
Jika ada yang berani melanggarnya sampai dua kali lanjut dia, maka akan diusir dari kampung Kauman. Namun apabila tetap membandel belum mau pergi dari kampung itu, Raja yang akan bertindak.
Yakni menangkap dan memenjarakannya dan tidak akan dibebaskan sebelum orang itu pindah dari kampung tersebut. Karena orang itu dianggap telah merusak agama Rasul Muhammad SAW.
Masjid SememenSebagai sebuah salah satu kampung tua yang ada di Solo, Kauman menyisakan eksotisme jejak masa lalu yang perlu dilestarikan keberadaannya. Karena kawasan itu terdapat bangunan saksi sejarah yang menandai adanya peristiwa tentang keistimewaan kampung itu.
Salah satu yang dimiliki Kauman adalah peninggalan masjid dan langgar yang bangunannya memiliki ciri khas yang tak bisa dipisahkan dengan bangunan keraton Kasunanan Solo, yakni Jawa klasik. Perpaduan antara gaya Eropa abad pertengahan dengan gaya Jawa yang sarat dengan kayukayu berukir.
Di Kauman sendiri, masih banyak sejumlah bangunan dan langgar peninggalan masa lalu yang masih utuh dan terawat. Salah satu peninggalan yang masih bisa disaksikan adalah masjid Sememen yang dulu difungsikan sebagai langgar. Merupakan peninggalan dari Ketib atau Khotib Sememi.
Seorang tokoh pengulu agama bergelar Kanjeng Kiai Pengulu (KKP) Tapsir Anam yang makamnya di Pajang satu kompleks dengan makam para pengulu lain dari Kauman.
Masjid Sememen, semula merupakan tanah wakaf dari Ketib Sememi ini. Dibangun tahun 1890 Masehi. Dengan bangunan bergaya Indies Jawa klasik.
Yang cukup menarik dari masjid ini, selain arsitekturnya yang masih asli, menara masjid yang tak begitu tinggi di sebelah kanan masjid itu sangat mirip dengan menara Panggung Sangga Buwana yang dimiliki keraton Kasunanan. Berbentuk heksagonal yang memiliki arti arah mata angin dan empat unsur alam, yakni air, angin, api dan tanah.Kampung Sememen memang menjadi satu bagian tak terpisahkan dari sejarah Kauman. Karena di kampung itu pula terdapat sebuah bangunan sekolah yang diberi nama Nahdlatul Muslimat (NDM). NDM merupakan sebuah organisasi pergerakan kaum wanita yang berdiri tahun 1931 di Solo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar